Asfiksia, Kurang Oksigen yang Mengancam Nyawa

KOMPAS.com – Aktor legendaris dan komedian Robin Williams dikabarkan meninggal dunia Senin (11/8/2014) siang. Aktor berusia 63 tahun ini diduga bunuh diri berdasarkan temuan kondisi asfiksia pada jasadnya.

Asfiksia ditandai dengan kondisi darah yang kekurangan oksigen dan tingginya kandungan karbon dioksida. Asfiksia bisa terjadi karena disengaja, misalnya menghirup helium, karbon dioksida, atau hidrogen. Gantung diri juga bisa membuat seseorang meninggal akibat asfiksia.

Gas seperti helium banyak digunakan untuk berbagai keperluan seperti campuran gas tabung untuk menyelam atau sebagai isi balon gas. Penggunaan helium juga dipakai untuk eutanasia pasien yang sakit parah, tapi dengan cara yang tidak “menyakitkan”.

Beberapa kasus kematian bunuh diri akibat helium juga sering ditemukan, tetapi terkadang polisi sulit memastikan penyebab kematian dengan metode autopsi biasa. Dibutuhkan peralatan khusus untuk mengambil sampel gas dari paru-paru jenasah.

Asfiksia juga bisa dialami oleh bayi baru lahir sehingga ia mengalami gawat janin hingga kematian. Penyebab asfiksia perinatal adalah kurangnya aliran darah ibu ke janin melalui tali pusat, bisa karena kondisi ibu, masalah pada tali pusat, atau penyakit bawaan bayi. Tanda bayi mengalami asfiksia adalah tubuh yang biru dan pucat, serta bayi tidak menangis spontan.

Terkadang kita juga tidak menyadari sedang mengalami asfiksia, misalnya saat masuk ke wilayah yang atmosfirnya berbeda dengan sebelumnya, misalnya pada ketinggian tertentu di pesawat.

Tubuh manusia akan memberi sinyal untuk bernapas karena kadar karbon dioksida di dalam tubuh yang tinggi. Asfiksia dapat menyebabkan tubuh ‘tidak tahu’ saat kita butuh oksigen baru.
Akibatnya, kita akan mengalami pusing dan kelamaan pingsan karena persediaan oksigen dalam tubuh terus berkurang.

Asfiksia juga bisa terjadi akibat komplikasi penyakit, misalnya keracunan karbon monoksida, batuk, asma, gagal jantung, infeksi, dan lain sebagainya.

Gejala-gejala asfiksia antara lain sulit bernapas, detak jantung cepat, tekanan darah tinggi, lumpuh, dan koma. (Kevin Sanly Putera)