Ari Wibowo “Berkulit Ular” Bermimpi Jadi Pemadam Kebakaran

TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com – Ari Wibowo (17) melangkah pelan memasuki rumahnya yang terletak di Jalan Palem Indah, Kelurahan Pondok Pucung, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan. Siang itu Ari langsung berjalan menuju kamar mandi dengan kondisi kulit di kakinya yang mulai kering.

Ari sedang tidak ingin buang air atau pun mandi. Ia lantas mengambil selang air dan menyirami tangannya hingga kaki. Hal ini rutin dilakukan Ari sekitar 30 menit sekali. Jika tidak segera dibasahi, kulit di tangan dan kaki Ari bisa mengeras dan pecah-pecah hingga berdarah.

Tak hanya pada kaki dan tangannya, kulit seperti sisik ular ini menjalar di seluruh tubuhnya dari kepala. Ari tak bisa tertawa lebar karena kulit wajahnya pun kering. Kondisi ini juga membuat kelopak mata Ari tertarik hingga memerah. Ari hanya dapat melihat menggunakan mata kirinya. Akibat kondisi ini, Ari dijuluki remaja “berkulit ular”.

Saat malam hari, Ari juga tak bisa tidur nyenyak. Ia sering terbangun dan bolak-balik kamar mandi untuk sekedar membasahi tubuhnya.

Selain membasahi bagian kulit yang kering, seluruh tubuh Ari juga rutin diolesi salep. Salep ini diolesi tiga kali dalam sehari untuk melembabkan kulitnya. Nenek Ari, Masnah (56) yang sering mengolesi tubuh Ari dengan salep.


Kondisi kulit seperti ular ini diderita Ari sejak lahir. Ari disebut menderita eritroderma yaitu kelainan pada kulit yang menyebabkan kulit di sebagian besar tubuhnya bersisik dan mengelupas. Tak banyak orang yang menderita penyakit kulit seperti Ari sehingga penyakit ini tergolong langka.

Akibat penyakit kulitnya ini, Ari memilih tak banyak keluar rumah karena tak bisa terlalu lama terkena paparan sinar matahari. Ia juga tak mau membuat orang di sekitarnya merasa ketakutan melihat dirinya.

“Takutnya nanti semua orang pada takut lihatnya,” kata Ari saat berbincang-bincang dengan Kompas.com di rumahnya, Sabtu (27/9/2014).

Ari pun mencoba menjalani kehidupannya sehari-hari dengan bertemu banyak orang di sekitar rumahnya. Ari menerima kondisi kulitnya yang tak bisa disembuhkan itu. Ia tak peduli ucapan orang lain yang mengejek dirinya.

“Ada orang yang tukang ejek juga. Tapi, ya dibiarin saja. Tetap semangat saja,” lanjut Ari.

Hampir setiap hari, Ari pergi mengaji mengenakan peci dan baju koko. Anak-anak di sekitar rumah Ari pun telah terbiasa melihat Ari. Tanpa pernah mengenyam pendidikan formal, Ari kini menjadi penjaga warnet milik keluarganya yang terletak di depan rumah.

Ari mengaku ingin bisa sekolah seperti teman-teman seusianya. Namun, saat kecil tak ada sekolah yang mau menerimanya. Remaja yang tak suka makan ikan ini pernah bercita-cita menjadi tentara karena menonton televisi saat Indonesia dijajah Belanda. Ari pun tak patah semangat dalam menjalani hidupnya. Remaja ini masih punya mimpi. Suatu saat, ia berharap bisa menjadi pemadam kebakaran.

“Sekarang pengin jadi pemadam kebakaran, jadi bisa sekalian nyiram diri sendiri,” ucapnya sambil tersenyum.