Perjuangan Membesarkan Ari Wibowo yang Berkulit Seperti Ular

TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com – Masnah (56) kaget melihat cucunya, Ari Wibowo, lahir dengan mata merah dan kulit yang bersisik seperti ular. Dengan kondisi perekonomian yang pas-pasan saat itu, Masnah dan keluarganya tetap berjuang untuk menyembuhkan Ari.

Setelah Rumah Sakit Muhammadiyah di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, tempat Ari dilahirkan tak mampu mengobati, Ari kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta. Di sana, Ari menjalani perawatan selama 1 bulan. Namun, kulit Ari tak juga sembuh.

Lima ekor kambing satu persatu dijual untuk menebus biaya rumah sakit dan membeli obat untuk Ari. Masnah juga menjual televisi seharga Rp 35 ribu. Tak ada lagi biaya, Masnah pun membawa pulang Ari.

“Semua biaya sendiri tanpa bantuan siapa-siapa. Dokter sudah enggak mampu ngobatin jadi kita bawa pulang saja,” kata Masnah.

Ibu Ari melahirkan dalam usia muda, yaitu 17 tahun. Saat ketuban pecah, Ari tak langsung keluar dari perut ibunya. Ibu Ari mulanya dibawa ke puskesmas kawasan Pondok Aren, Jakarta Selatan. Namun, pihak puskesmas tidak bisa menangani karena air ketuban ibunda Ari sudah kering dan harus dioperasi. Ibu Ari pun menjalani operasi persalinan di Rumah Sakit Muhammadiyah, Jakarta Selatan.

“Rumah sakit enggak bisa ngobatin. Biaya sudah enggak ada. Kita juga bawa Ari ke orang pintar,” kata Masnah.

Pergi ke “orang pintar” juga tak membuahkan hasil. Kulit bersisik seperti ular itu tetap melekat di tubuh Ari. Masnah tak tahu pasti penyebab penyakit kulit yang diderita Ari. Menurut Masnah, dokter mengatakan ibunda Ari kurang vitamin saat mengandung Ari.

Ari juga hanya dapat melihat sebelah mata, yaitu pada mata kirinya. Kedua matanya ini harus diberi tetes mata setiap hari.

Waktu itu ada yang mau nyumbang mata untuk Ari. Pernah dibawa ke Rumah Sakit Mata Aini. Tapi dokter bilang mata Ari enggak bisa dioperasi. Matanya yang kiri juga bisa jadi seperti mata kanan kalau sisiknya kering dan dibiarin. Jadi harus dijaga biar sisiknya yang kering enggak tergores biji mata, terang kakek Ari, Sarfan (63).

Keluarga pun tetap merawat Ari penuh kasih sayang. Setiap hari kulit Ari diolesi salep dan dibasuh air.

Nama Ari Wibowo sendiri dipilih Masnah mengikuti nama artis di televisi. “Dulu suka nonton Ari Wibowo di televisi. Orangnya kan ganteng, tinggi, badannya tegap. Jadi saya bilang, kalau nanti lahir namanya Ari Wibowo aja biar ketularan. Eh, ternyata sama namanya doang,” ucap Masnah.

Ditolak sekolah

Perjuangan keluarga untuk membesarkan Ari tak berhenti sampai di situ. Memasuki usia 6 tahun, keluarga mendaftarkan Ari ke Sekolah Dasar (SD). Keluarga menilai Ari bisa bersekolah seperti teman-teman seusianya karena kondisi otak Ari normal. Ari juga bisa berbicara dan memegang pensil meski kondisi jari tangannya tidak sempurna.

Sayangnya, pihak sekolah menolak Ari saat itu. Kepala sekolahnya bilang, daripada cuma gara-gara anak satu nanti anak muridnya yang banyak keluar, cerita Masnah.

Menurut Masnah, saat itu memang banyak orang yang mulanya takut melihat Ari dengan kulit kering seperti sisik ular dan mata merah. Masnah kemudian berharap pada sekolah madrasah. Namun, sekolah itu juga menolak, dengan alasan takut Ari tak bisa mengikuti pelajaran seperti anak lainnya. Akhirnya, Masnah memanggil guru sekolah ke rumah.

Gurunya masih muda, masih mahasiswa. Sebulan mamanya Ari bayar Rp 200 ribu, terang Masnah.

Namun, guru muda ini hanya mengajar selama 1 tahun karena tak memiliki banyak waktu. Keluarga akhirnya mencoba memanggil guru lain untuk mengajar privat di rumah. Lagi-lagi, urusan biaya menjadi persoalan. Saat itu, hanya ada guru yang mau mengajar privat asal dibayar Rp 500 ribu per bulan.

Kita enggak sanggup kalau segitu (Rp 500 ribu). Jadi ya sudah lah, kata Masnah pasrah.

Jaga warnet

Kini, Ari sudah berusia 17 tahun. Ia tinggal Jalan Palem Indah Nomor 66, Pondok Pucung, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan, bersama ibunya, nenek dan kakeknya Sarpan (63).

Tanpa pendidikan formal, Ari rutin mengaji bersama anak-anak yang lain di dekat rumahnya. Sementara itu, ibunda Ari setiap hari bekerja menjadi petugas kebersihan di sebuah kantor kawasan Tangerang.

Selain mengaji, Ari juga menjadi penjaga warnet yang dimiliki sanak keluarganya di rumah itu. Uang hasil menjaga warnet sesekali digunakan Ari untuk membeli salep kulitnya.

Lambat laun, orang-orang di sekitar dapat menerima kondisi Ari. Warnet yang dijaga oleh Ari pun terbilang ramai dikunjungi para remaja yang gemar bermain game online. Ari juga mampu mengoperasikan komputer dan hobi menggambar.