Bagaimana Cara Dokter Mendeteksi Infeksi Ebola?

KOMPAS.com – Penyebaran virus ebola sampai saat ini belum dapat dikendalikan di Afrika, malah sudah dilaporkan penularan virus ini di Amerika Serikat. Virus ebola sebenarnya tak mudah didiagnosa saat seseorang pertama kali tertular. Ini karena gejalanya mirip dengan penyakit lain, seperti malaria atau tifus.

“Gejalanya sangat tidak spesifik di awal. Ebola mirip dengan penyakit lain,” kata Dr.Bruce Hirsch, spesialis penyakit menular dari North Shore University Hospital, New York, AS.

Salah satu hal yang akan jadi pertimbangan dokter adalah jika seseorang pernah mengunjungi negara Afrika Barat (Guinea, Sierra Leone, dan Liberia) yang sekarang ini sedang dilanda wabah ebola dalam waktu 21 hari terakhir.

Faktor lain yang perlu diwaspadai adalah apakah pernah berinteraksi dengan orang yang baru pulang dari negara-negara tersebut. Seorang pria dari Texas, AS, terdiagnosis ebola setelah ia bepergian ke Dallas dari Liberia.

ebola menyebar melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh dari orang yang terinfeksi, objek yang terkontamintasi dengan cairan atau hewan yang terinfeksi. Virus ini tidak menyebar lewat udara.

Jika seseorang mengalami gejala-gejala seperti demam tinggi (38,6 derajat celcius), sakit kepala, otot nyeri, diare, muntah, dan sakit perut, serta orang tersebut baru kembali dari negara yang terjangkit ebola dalam 21 hari terakhir, orang ini harus diisolasi dan dites Ebola.

Tes Ebola

Ada beberapa tes yang dipakai untuk mendiagnosis ebola dalam beberapa hari setelah munculnya gejala. Tes tersebut mendeteksi genetik material virus atau keberadaan antibodi melawan patogen.

Tes yang paling akurat adalah tes polymerasa chain reaction (PCR), teknik yang melihat materi genetik dari virus. “PCR adalah tes yang sangat definitif. Tes ini bisa mengambil jumlah virus sangat sedikit,” kata Hirsch.

Tetapi, hasil tes PCR bisa saja negatif pada tiga hari pertama setelah seseorang menunjukkan gejala. “Seseorang bisa dirawat di rumah sakit selama 3-5 hari sebelum diagnosis dikonfirmasi,” kata Dr.Sandro Cinti, pakar penyakit menular dari University of Michigan Hospital System.

Pasien yang diduga terinfeksi memang sebaiknya diisolasi sampai hasil tesnya diketahui. Sambil menunggu, dokter juga akan melakukan beberapa tes penyakit lain yang punya gejala mirip, seperti malaria, yang lebih mudah dideteksi dari pada ebola.

Tes lainnya adalah melihat antibodi yang diproduksi sistem imun tubuh dalam merespon virus. Tes yang disebut dengan antigen-capture enzyme-linked immunosorbnet assay (ELISA) ini butuh waktu lebih dari 3 hari untuk menunjukkan hasil positif. Adanya antibodi juga bisa dideteksi setelah pasien pulih.

Begitu seorang pasien positif terdiagnosis ebola, peneliti akan mengisolasi virusnya dan melakukan kultur dengan sel hidup. Tetapi mengkultur ebola sangat berbahaya dan hanya bisa dilakukan di laboratorium dengan tingkat keamanan tinggi. Tujuan dari kultur virus ini adalah mengetahui cara kerja virus menginfeksi sel dan mencari tahu cara mengobatinya.