Kisah Sukses Evita Maryanti Tagor “Senantiasa Bersabar dan Ikhlas”

Untuk meraih kesuksesaan kita hanya perlu memiliki keikhlasan, kesabaran dan pribadi yang dapat dipercaya. Evita Maryanti Tagor, presiden direktur PT Tugu Pratama Indonesia menggunakan kesabaran, keikhlasan dan kebersamaan kelompok untuk mencapai keberhasilannya. Dengan mengedepankan tiga hal ini kita bisa mendapatkan banyak manfaat. Evita dikenal sebagai eksekutif yang memegang teguh amanah dan integritas, prinsipnya ini berkaitan erat dengan keyakinan religiusnya bahwa posisi sekarang ini hanya menjadi ujian yang harus dipertanggung jawabkan kelak di hadapan Tuhan.

Dalam perjalanan karirnya Evita mendapat tawaran untuk menjadi presiden direktur dari anak perusahaan asuransi hanya pada saat itu ia masih mengalami kekecewaan dengan asuransi karena kesulitan mencairkan polis asuransi ayahnya yang meninggal dunia, Namun pada akhirnya peluang ini dianggap Evita sebagai tugas yang harus dilakukan untuk memperbaiki citra asuransi di masyarakat yang mengalami kekecewaan serupa dengan Evita. Selama ini ia menerapkan kerjasama tim untuk saling percaya terhadap. Strateginya dalam memajukan perusahaan dilakukan dengan memberi arahan, rencana dan alasan akan apa yang mereka lakukan. Selain itu semua tetap perlu didukung dengan program kerja yang realistis. Jika keduanya dapat terwujud maka langkah selanjutkan ialah meningkatkan kapabilitas dan memberi motivasi kepada karyawan untuk mencapai rencana kerja yang ditetapkan. Jangan lupa bahwa menerapkan tolak ukur kinerja sangat diperlukan untuk memberi ukuran kinerja setiap individu, agar dalam penilaian hasil kerja dapat lebih objektif dan terukur.

Evita Maryanti Tagor memiliki filosofi hidup “ follow where the water flows” , dimana kesuksesan baginya merupakan hal relatif yang definisi dan ukuran setiap orang berbeda.

Di luar itu, Evita Maryanti adalah sosok eksekutif yang memegang teguh amanah dan integritas. Ternyata, prinsip tersebut berkaitan erat dengan keyakinan religiusnya bahwa posisi yang ditempatinya saat ini adalah ujian yang harus dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Tuhan. “Apa yang diperoleh atau dijabat hari ini merupakan ujian dari Allah SWT. Pada akhirnya, kepada Tuhanlah kita harus bertanggung jawab atas semua tindakan kita,” ujar perempuan kelahiran Jakarta, 9 Juni 1960, itu.

Setelah lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jurusan akuntansi, dia memulai karier di Pertamina sebagai kader Direktorat Keuangan cq bagian akuntansi di Kantor Pusat Pertamina sejak 1986. Sejak itu, Evita terus bekerja dan berpindah- pindah bagian di lingkungan Pertamina bagian keuangan.

Sejalan dengan perpindahan bagian, karier Evita juga merambat naik dari waktu ke waktu, hingga akhirnya pada Mei 2006 Evita diangkat menjadi deputi direktur perbendaharaan dan pendanaan Direktorat Keuangan. Jabatan deputi direktur adalah jabatan karier struktural tertinggi di Pertamina. Setelah menjabat sebagai deputi direktur selama hampir enam tahun, pada pertengahan Januari 2011 saya diperbantukan oleh Pertamina dan ditempatkan sebagai presiden direktur PT TPI sampai saat ini. Pertamina memiliki 65% saham TPI.

Image : http://id.beritasatu.com

Leave a Reply