Kisah Sukses Yang Pei “Awali Dengan Berani Menggali Potensi Diri”

Setiap manusia memiliki potensi besar untuk meraih kesuksesaan jika potensi itu belum tampak maka kita harus belajar dan menggali potensi yang dimiliki lebih lagi. Oleh karena itu jika mengharapkan kesuksesaan maka kita harus berani pula untuk berproses.

Yang Pei merupakan remaja di China yang telah kehilangan lengannya sejak usia 9 tahun karena tersengat listrik tegangan tinggi. Akan tetapi apa yang terjadi disikapinya dengan positif, Yang Pei dan keluarganya tidak berputus asa atau bahkan menyerah dalam menjalani hidup. Bahkan Yang Pei memiliki amibisi dan berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak pernah berhenti berusaha sebelum keinginannya tercapai. Perjuangan keras Yang Pei pada akhirnya tidak sia-sia, ia berhasil meraih sebagian kecil harapan yang telah diimpikan sejak kecil yakni masuk perguruan tinggi dan bahkan ia menjadi perempuan tunanetra pertama yang menjadi lulusan dari Universitas Harvard.

Tapi tentu saja Yang merasa sangat terpukul dengan kenyataan yang harus dia hadapi. Hidup tanpa lengan tentu bukanlah hal yang mudah baginya. Dunia penjahitan yang sangat dia cintai seakan sirna seketika, bahkan untuk melakukan aktivitas sehari – hari saja sangat sulit rasanya.

Namun, Yang tak ingin berlarut dalam kesedihan terlalu lama. Dia bangkit dan mulai belajar untuk menggunakan kakinya untuk melakukan semua kegiatan sehari – hari. Yang menggunakan kakinya untuk menulis, bahkan untuk makan. Yang kemudian memutuskan untuk belajar kembali seni menjahit tradisional China dengan kedua kakinya. Yang percaya dan yakin, kalau ada kemauan dan kerja keras, dia pasti akan berhasil suatu saat nanti. Karya – karya Yang mulai dikenal banyak orang di daerah tempatnya tinggal. Bahkan, kini Yang Pei sudah terkenal dan karyanya dipuja banyak orang. Yang akhirnya bisa sukses menjadi seorang penjahit walaupun tanpa tangan dan lengan.

Kisah ini berbanding terbalik dengan pendidikan masyarakat kebanyakan di negara kita yang sering kali secara tidak sadar mengecilkan hati anaknya karena nilai rapot yang kurang baik atau adanya laporan dari guru yang sering kali menciutkan hati anak. Hal ini menyebabkan anak menjadi tersudut karena kesalahannya, padahal nilai sekolah bukan menjadi ukuran kecerdasan anak.

PANTANG MENYERAH SEBELUM PERANG
Berjalan dan galilah potensi yang ada pada diri anda, jelilah dalam melihat peluang dan yang terpenting miliki sikap optimis. Jangan sampai terpikir kata-kata pesimis ketika sedang berjuang karena hal ini akan membuat anda secara tidak sadar ciut dalam berjuang. Sering kali kita telah mendekati kesuksesaan namun sayangnya sering kali pula kita menyerah terlalu cepat bahkan sebelum kita menghadapi halangan dan rintangan yang berada di hadapan kita, padahal untuk menjadi sukses dibutuhkan kesabaran dan ketekunan yang luar biasa.

Pada saat kita merasa telah berusaha namun tidak menuai hasil disitulah sebetulnya tanda-tanda kita sudah akan menuai kesuksesan. Ketika kita mencapai titik kebingungan untuk melanjutkan atau tidak, sebetulnya itulah merupakan kesuksesaan yang hampir kita capai namun masih tertutup sehelai benang. Maka akan sangat disayangkan ketika apa yang kita kerjakan selama ini dilepas begitu saja padahal dibalik benang itu kita telah menemukan kesuksesaan.

Image : http://www.asiaone.com

Leave a Reply