Motivasi Bekerja Dalam Kerja Produktif Bukan Sibuk Kerja

1. Makna Pekerjaan Kita

Ketika bekerja pernahkah kita merenungkan apakah kita bekerja untuk menghidupi keluarga, sekedar mengisi waktu, mencari pengalaman, mempersiapkan masa depan, membagi ilmu, bentuk ibadah atau ada alasan lain dibaliknya. Apapun alasannya perlu diingat bahwa perkerjaan merupakan usaha untuk menyelesaikan permasalahan, menciptakan karya baru dan mencapai sesuatu. Dengan bekerja kita akan memiliki peluang lebih besar untuk menciptakan kualitas hidup yang lebih baik, dengan bekerja dan terus bergerak menunjukan bahwa kita masih memiliki naluri untuk bertahan hidup.

Makna bekerja bergantung dari perspektif tiap-tiap individu. Banyak yang mengatakan ketika manusia mencapai tingkatan paling tinggi, bekerja tidak lagi dilandaskan karena uang namun karena panggilan hidup untuk mengabdikan hidupnya tanpa imbalan. Pekerjaan apapun meskipun terlihat kecil akan menjadi pekerjaan besar dan mulia jika dimaknai dengan sungguh-sungguh. Seperti yang seringkali dikatakan oleh Marthin Luther King, Jr bahwa ketika kita terpanggil menjadi tukang sapu jalanan maka sapulah jalanan itu seperti Michelangelo yang sedang melukis atau seperti Beethoven yang menggubah musik dan seperti Shakespeare yang menulis sajak.

2. Kebutuhan Manusia dan Macam-Macamnya

Setiap individu memiliki kebutuhan dari yang terkecil hingga terbesar. Hal ini dijelaskan oleh Abraham Maslow seorang psikolog humanis dengan teorinya mengenai hierarki kebutuhan Maslow. Teori ini menjelaskan bahwa manusia memenuhi kebutuhan dari tingkat yang paling bawah dan setelahnya baru manusia akan memenuhi kebutuhan tingkat berikutnya. Sederhananya jika seseorang lapar maka orang itu akan memenuhi kebutuhan dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum memenuhi kebutuhan lainnya.

Hierarki kebutuhan Maslow dapat digambarkan melalui piramida yang akan memudahkan penggambaran tingkat kebutuhan dari yang terkecil sampai terbesar. Setiap tingkatan tidak akan ada yang terlewati oleh manusia karena setiap kebutuhan akan mencapai tingkatan secara teratur karena manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan besarnya jika yang terkecil belum dipenuhi. Kebutuhan psikologis menjadi kebutuhan paling dasar sehingga manusia harus mendapatkan kebutuhan ini terlebih dahulu untuk mencapai kebutuhan lain.

Piramida hierarki kebutuhan Maslow memiliki 5 tingkatan, yakni:

1. Kebutuhan Fisilogis

Kebutuhan ini merupakan kebutuhan paling dasar yang lebih terkait dengan kebutuhan fisik (contoh: kebutuhan makanan, minuman, tempat tinggal, tidur dan oksigen). Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan yang menjadi syarat untuk menuju tingkat kebutuhan berikutnya. Ketika manusia masih merasa lapar maka ia akan menahan kebutuhan lain.

2. Kebutuhan Akan Rasa Aman

Setelah kebutuhan fisiologis telah terpenuhi maka kebutuhan lain akan mulai muncul, seperti rasa aman secara fisik, stabilitas dan perlindungan (contoh: kebutuhan akan kebebasan dari ancaman teroris, penyakit, takut, cemas dan bencana alam) sayangnya kebutuhan akan rasa aman tidak dapat dipenuhi secara total. Manusia tidak dapat hidup tanpa bahan makanan yang cukup namun mereka masih bisa bertahan walaupun perlindungan dari ancaman bencana alam dan bahkan ancaman dari orang lain tidak selalu terjamin. Meski begitu, Maslow melihat bahwa manusia memiliki tingkah laku yang berbeda ketika terancam, ada yang bertingkah seperti orang sedang terancam dan dengan otomatis mencari perlindungan serta berusaha keras menghindar dari keadaan yang tidak diharapkan.

3. Kebutuhan Akan Rasa Memiliki Dan Rasa Sayang

Setelah dua kebutuhan diatas terpenuhi maka selanjutnya akan muncul kebutuhan untuk rasa memiliki dan kasih sayang. Manusia cenderung akan mencari teman, pasangan hidup dan mendapatkan keturunan. Maslow melihat bahwa kebutuhan akan kasih sayang berkaitan erat dengan sikap memberi dan menerima. Hal seperti ini bisa tumbuh dengan adanya sikap memahami dan mengajarkan. Dalam dunia kerja kebutuhan ini berhubungan dengan kebutuhan sosial dalam mendorong tim untuk melakukan kegiatan sosial yang akan menciptakan persahabatan dan keluarga. Dengan begitu kebutuhan kasih sayang akan terpenuhi.

4. Kebutuhan Dan Penghargaan

Ketika kebutuhan-kebutuhan diatas telah terpenuhi maka selanjutnya manusia secara otomatis mengejar kebutuhan akan penghargaan, seperti menghormati orang lain, status, ketenaran, reputasi dan perhatian. Menurut Maslow, kebutuhan akan penghargaan terbagi menjadi dua tingkatan, yakni: tingkatan tinggi dan tingkatan rendah. Kebutuhan tinggi ini merupakan kebutuhan yang mengarah pada harga diri seperti perasaan, keyakinan, kompetensi, prestasi, penguasaan, kemadirian dan kebebasan. Sedangkan kebutuhan dengan tingkat rendah merupakan kebutuhan untuk menghormati orang lain, status, keteranaran, reputasi, perhatian, apresiasi, martabat dan dominan. Maslow berpendapat apabila kebutuhan harga diri sudah terpenuhi maka manusia siap memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi lagi.

Dalam dunia kerja penerapan kebutuhan ini berhubungan erat dengan kebutuhan harga diri. Pada saat tertentu ada baiknya jika atasan memberi penghargaan kepada karyawan yang telah mencapai atau melebihi target yang ditetapkan. Hal ini akan membuat karyawan memiliki harga diri dan kebutuhan atas penghargaan yang terpenuhi.

5. Kebutuhan Akan Aktualisasi Diri

Maslow melihat bahwa kebutuhan aktualisasi diri merupakan tingkat kebutuhan yang paling tingi karena melibatkan dorongan kuat dari dalam diri untuk menjadi apa yang sesuai dengan keinginan dan kemampuan manusia itu sendiri. Kebutuhan ini menjadi keinginan yang dapat mencapai potensi. Aktualisasi diri dalam dunia kerja dapat diwujudkan dalam bentuk tantangan pada karyawan dalam pekerjaannya sehingga keterampilan dan kreativitas dapat meningkat. Dengan begitu, karyawan memiliki motivasi untuk memenuhi kebutuhan akan aktualisasi diri.

image : http://www.thecrowdfunetwork.com

Leave a Reply