Memahami Ego Setiap Manusia

Edward Bok seorang editor dan pejuang kesejahteraan manusia melihat bahwa ego dan egoisme merupakan percikan api ilahi yang tertanam dalam diri manusia dan hanya mereka yang telah menyalakannya yang akan mencapai hal-hal besar. Setiap manusia siapapun itu pasti memiliki dorongan kuat dalam diri mereka untuk membela sesuatu yang dianggap penting. Sehingga anda tidak bisa memperlakukan orang seenaknya dan bersikap buruk, menganggap mereka sebagai mesin atau kumpulan massa. Kuncinya, perlakukanlah orang lain sesuai dengan apa yang anda harapkan dari perilaku orang lain.

Henry Kaiser melihat bahwa manusia akan secara otomatis mempraktikan hubungan yang baik antar sesama jika mereka melihat bahwa setiap individu itu penting. Mereka yang tidak bisa melihat hal ini merupakan mereka yang hanya berfokus untuk membuat dirinya penting dengan menghasilkan uang, memperoleh kekuasaan, nama baik atau dengan cara lain yang mudah dilihat. Hal ini tidak saja digerakan karena rasa egois mereka namun lebih kepada harga diri. Tiga hal ini yang harus selalu kita ingat, bahwa:

1. Manusia merupakan mahkluk yang egois.

2. Manusia lebih tertarik pada diri sendiri dibanding apa yang terjadi diluar dirinya.

3. Setiap manusia pasti ingin dianggap penting.

Semua manusia lapar akan ego dan baru terpuaskan ketika mereka telah mendapatkan setidaknya setengah dari itu. Ketika berhasil dalam mendapatkan egonya, manusia baru dapat melupakan diri sendiri, bermurah hati dan bersahabat dengan orang lain. Pada titik ini manusia baru mulai dapat melepaskan perhatian terhadap diri sendiri dan memberi perhatian pada sesuatu yang lain. Menjadi catatan penting bahwa mereka yang sudah belajar menyukai diri sendiri secara otomatis dapat lebih bersahabat dengan orang lain. Ketika manusia belajar menyukai diri sendiri secara otomatis mereka juga belajar menyukai orang lain. Setelah mereka berhasil mengatasi ketidakpuasaan diri sendiri, mereka akan mulai menjadi lebih kritis dan toleran terhadap orang lain. Hal ini sama seperti dengan lapar perut, lapar ego menjadi sesuatu yang wajar dialami oleh semua orang. Tubuh memerlukan makanan agar tetap hidup sedangkan ego butuh rasa hormat, persetujuan dan perasaan puas karena berhasil mencapai sesuatu yang bermakna.

Menyamakan ego dengan perut dapat membantu dalam menjelaskan mengapa manusia memiliki bermacam-macam tingkah laku pada saat lapar. Ibaratnya orang yang makan tiga kali sehari pasti tidak akan terlalu memikirkan perutnya namun ketika mereka tidak makan selama satu atau dua hari, ia akan menjadi lebih lapar dari biasanya dan kepribadiannya pun berubah. Mereka mungkin akan mudah membentak orang jika ada yang membuatnya tidak senang. Namun tidak ada yang perlu memberitahu jika penyebab perilaku orang ini adalah karena perutnya kosong. Satu-satunya cara untuk menyembuhkan hanya dengan memenuhi tuntutan alamiahnya untuk bertahan hidup. Alam telah memberi naluri kepada manusia bahwa hal terpenting yang harus dipenuhi ialah kebutuhan dasar mereka sendiri. Manusia harus bisa memberi makan dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum dia sanggup memberi perhatian kepada yang lain. Hal ini berlaku pula bagi orang yang egois karena untuk memperoleh kepribadian yang sehat, kodrat alamnya menuntut penerimaan dan persetujuan diri terlebih dahulu. Mereka tidak bisa melupakan diri mereka sebelum ego mereka terpuaskan, setelahnya mereka baru dapat melepaskan perhatian dari diri sendiri dan memberikan perhatian mereka pada pekerjaan. Perlu diingat ketika harga diri manusia sedang tinggi mereka akan mudah untuk diajak berinteraksi karena pada kondisi ini manusia lebih gembira , murah hati, toleran dan bersedia mendengarkan pendapat orang lain. Kepribadian mereka begitu kuat dan mantap, sehingga mereka bersedia mengambil resiko, untuk menerima kenyataan bahwa kadang mereka berbuat salah dan mau mengakuinya. Mereka dapat dikritik, diejek dan tidak khawatir akan itu karena harga diri mereka besar sehingga hal ini hanya akan menyakiti bagian kecil dari harga dirinya. Begitupun sebaliknya ketika harga diri manusia sedang turun, kesulitan mudah datang dan apa saja dapat dilihat sebagai ancaman bahkan bagi beberapa orang , pandangan kritis dan kata-kata kasar bisa dianggap sebagai bencana. Mereka yang masih memiliki harga diri rendah akan cenderung lebih sensitif, mereka akan selalu melihat sesuatu sebagai sindiran atau bermakna ganda.
Anda bisa membantu orang-orang ini dengan mulai menyukai diri mereka terlebih dahulu dan ketika mereka mencoba menurunkan wibawa anda maka ingatlah dua hal dibawah ini:

  • Mereka bersikap seperti itu karena merasa perlu untuk menunjukan betapa penting diri mereka dan berusaha melakukannya dengan merendahkan anda. Harga diri yang sedemikian rendah sehingga apabila anda meremehkan harga dirinya, mereka akan benar-benar hancur. Untuk menghadapi hal ini anda perlu mengenal orang seperti apa mereka yang ada didepan anda.
  • Menghadapi orang-orang seperti ini kita tidak boleh menambah persoalan dengan merendahkan mereka. Hindari kata-kata yang menyindir, menyakiti perasaan dan memungkinkan terjadinya perdebatan. Jika anda berusaha untuk menang maka ini malah akan menurunkan harga diri mereka yang sudah rendah dan membuatnya lebih susah diajak bicara. Sebaliknya, berilah makan ego orang yang lapar ini dan ubahlah mereka menjadi orang yang lemah lembut dan tidak mudah marah. Taktik ini berlaku bagi semua orang bukan hanya bagi mereka yang egonya lapar.

Siapapun akan menjadi lebih menyenangkan, lebih mudah dipahami dan kooperatif jika anda memberi makan egonya, bukan dengan pujian yang berlebih namun pujian yang tulus dan sungguh-sunguh. Biasakan untuk memberi paling sedikit lima pujian tulus setiap harinya. Bantu orang lain untuk menyukai dirinya sendiri, jangan melakukannya dengan sikap superior dan menggurui karena ini hanya akan menimbulkan kebencian dan menunjukan bahwa anda hanya membantu mereka karena merasa lebih baik.

Image : www.thespruce.com

Leave a Reply